Amazing Japan #1: Youkoso Japan!
Okay, guys! Ini adalah cerita perjalanan gue ke Jepang. Sudah lama gue ingin mengunjungi negara ini, akhirnya kesampaian. Walaupun dalam rangka study tour, bareng teman dan guru, it's okay. Lanjut terus......!
Awalnya, kami transit di Malaysia dulu dan nginap semalam disana. Hari berikutnya lanjut perjalanan lagi.
Setelah melalui perjalanan panjang, maksudnya 8 jam di dalam pesawat, tibalah kami di negeri sakura. Lelah pastinya. Kami tiba di waktu yang sangat gelap. Bandara Kansai (kami mendarat di Osaka) tampak indah dengan beraneka ragam lampu berwarna di sepanjang landasan pacu. Entah seberapa dinginnya saat itu. Saat sudah memasuki Osaka, jendela pesawat berasa dingin banget, bahkan membeku sedikit! *lihat gambar
Keluar dari bandara, angin yang menusuk tulang langsung berembus. Dingin banget! Setidaknya, kami langsung berangkat ke hotel dengan bus. Pandanganku di sepanjang jalan hanya ke arah jendela. Rasanya masih sulit dipercaya. Ya, begitulah. Hotel menjadi tempat istirahat malam itu.
Pagi menyapa dan perut meminta haknya. Saat itulah sarapan pertama kami dengan makanan asli Jepang. Senang rasanya. Semangkuk nasi hangat, telur, sayur, ikan, natto, dan miso soup. Lengkap dengan kerupuknya orang Jepang, nori. Rumput laut satu ini biasa dijual berbungkus-bungkus. Makannya itu kayak makan kertas. Krauk! Krauk! Btw, karena udah disiapin, insya Allah halal.
Fyi, natto itu bisa dibilang 'tempenya Jepang', kedelai fermentasi yang teksturnya berlendir. Gue gak coba karena katanya kurang enak. Tapi gak tahu juga. Jangan salah, natto ini sehat, lho! Terus, miso soup itu sup khas Jepang yang biasa dimakan bersama nasi. Yummy!
Menurut gue, makanan Jepang itu enak-enak saaja. Yang unik bagi gue, telurnya rasanya manis. Ini serius! Beberapa kali makan telur (lihat mangkok hitam yang isinya dua bulatan kuning), emang manis rasanya.
Salah satu hal yang gue suka di Jepang adalah banyak vending machine. Itu, lho, mesin mandiri yang jual-jual makanan, minuman, de-el-el. Gue coba beli yang minuman. Rata-rata harganya 110-160 yen. Di musim dingin, minuman dijual panas-panas. Huwenak! Gue suka minuman mirip cream soup jagung kalengan. Harganya 130 yen. Langsung suka di percobaan pertama, mana anget pula lagi.
Oke, tour dimulai. Sudut-sudut kota mulai gue lewati. Tahu gak? Wilayah Jepang itu besarnya sepertiga Indonesia dan jumlah penduduknya setengah Indonesia. Kebayang pasti padatnya gimana. Tapi, jalanan itu GAK MACET sedikit pun, bahkan lalu lintas gak ramai sama sekali. Kenapa bisa begitu? Mereka banyak memilih berjalan kaki ataupun bersepeda. Selain itu mereka juga senang naik kendaraan umum, seperti kereta bawah tanah.
Satu hal lagi, di jalan raya nampak sedikit sekali sepeda motor. Saking sedikitnya, nyari mereka di jalanan aja susah. Karena aturan sepeda motor di Jepang dua kali lebih ribet daripada mobil. Mending naik mobil, kan? Atau lebih enak naik sepeda?
Eits, di Jepang itu ramah pesepeda. Bersepedanya di trotoar bareng pejalan kaki. Lalu lintasnya juga ikut pejalan kaki, seperti lampu merahnya. Aman, damai, sejahtera kalau bersepeda di sana. Pengalaman gue bersepeda di rumah. Kalau bersepeda harus pagi banget jam 6 biar jalan gak rame. Bersepedanya di pinggir jalan. Ngeri juga karena mobil lewat terus. Apalagi kalau ada kaki lima tengah jalan, bergeser dikit ke tengah. Rasanya takut ketabrak mobil dari belakang. Di Jepang, jam berapa pun sepeda no problem. Semoga Indonesia bisa lebih baik, ya!
Seperti itulah gambaran kondisi di Jepang. Semoga bermanfaat, apalagi yang mau ke Jepang. Bagaimana dengar tour pertama gue? Tetap stay dan nantikan edisi berikutnya!
Arigatou gozaimashita!
Awalnya, kami transit di Malaysia dulu dan nginap semalam disana. Hari berikutnya lanjut perjalanan lagi.
Setelah melalui perjalanan panjang, maksudnya 8 jam di dalam pesawat, tibalah kami di negeri sakura. Lelah pastinya. Kami tiba di waktu yang sangat gelap. Bandara Kansai (kami mendarat di Osaka) tampak indah dengan beraneka ragam lampu berwarna di sepanjang landasan pacu. Entah seberapa dinginnya saat itu. Saat sudah memasuki Osaka, jendela pesawat berasa dingin banget, bahkan membeku sedikit! *lihat gambar
Keluar dari bandara, angin yang menusuk tulang langsung berembus. Dingin banget! Setidaknya, kami langsung berangkat ke hotel dengan bus. Pandanganku di sepanjang jalan hanya ke arah jendela. Rasanya masih sulit dipercaya. Ya, begitulah. Hotel menjadi tempat istirahat malam itu.
Pagi menyapa dan perut meminta haknya. Saat itulah sarapan pertama kami dengan makanan asli Jepang. Senang rasanya. Semangkuk nasi hangat, telur, sayur, ikan, natto, dan miso soup. Lengkap dengan kerupuknya orang Jepang, nori. Rumput laut satu ini biasa dijual berbungkus-bungkus. Makannya itu kayak makan kertas. Krauk! Krauk! Btw, karena udah disiapin, insya Allah halal.
Fyi, natto itu bisa dibilang 'tempenya Jepang', kedelai fermentasi yang teksturnya berlendir. Gue gak coba karena katanya kurang enak. Tapi gak tahu juga. Jangan salah, natto ini sehat, lho! Terus, miso soup itu sup khas Jepang yang biasa dimakan bersama nasi. Yummy!
Menurut gue, makanan Jepang itu enak-enak saaja. Yang unik bagi gue, telurnya rasanya manis. Ini serius! Beberapa kali makan telur (lihat mangkok hitam yang isinya dua bulatan kuning), emang manis rasanya.
Salah satu hal yang gue suka di Jepang adalah banyak vending machine. Itu, lho, mesin mandiri yang jual-jual makanan, minuman, de-el-el. Gue coba beli yang minuman. Rata-rata harganya 110-160 yen. Di musim dingin, minuman dijual panas-panas. Huwenak! Gue suka minuman mirip cream soup jagung kalengan. Harganya 130 yen. Langsung suka di percobaan pertama, mana anget pula lagi.
Oke, tour dimulai. Sudut-sudut kota mulai gue lewati. Tahu gak? Wilayah Jepang itu besarnya sepertiga Indonesia dan jumlah penduduknya setengah Indonesia. Kebayang pasti padatnya gimana. Tapi, jalanan itu GAK MACET sedikit pun, bahkan lalu lintas gak ramai sama sekali. Kenapa bisa begitu? Mereka banyak memilih berjalan kaki ataupun bersepeda. Selain itu mereka juga senang naik kendaraan umum, seperti kereta bawah tanah.
Satu hal lagi, di jalan raya nampak sedikit sekali sepeda motor. Saking sedikitnya, nyari mereka di jalanan aja susah. Karena aturan sepeda motor di Jepang dua kali lebih ribet daripada mobil. Mending naik mobil, kan? Atau lebih enak naik sepeda?
Eits, di Jepang itu ramah pesepeda. Bersepedanya di trotoar bareng pejalan kaki. Lalu lintasnya juga ikut pejalan kaki, seperti lampu merahnya. Aman, damai, sejahtera kalau bersepeda di sana. Pengalaman gue bersepeda di rumah. Kalau bersepeda harus pagi banget jam 6 biar jalan gak rame. Bersepedanya di pinggir jalan. Ngeri juga karena mobil lewat terus. Apalagi kalau ada kaki lima tengah jalan, bergeser dikit ke tengah. Rasanya takut ketabrak mobil dari belakang. Di Jepang, jam berapa pun sepeda no problem. Semoga Indonesia bisa lebih baik, ya!
Seperti itulah gambaran kondisi di Jepang. Semoga bermanfaat, apalagi yang mau ke Jepang. Bagaimana dengar tour pertama gue? Tetap stay dan nantikan edisi berikutnya!
Arigatou gozaimashita!
Komentar
Posting Komentar